Sebuah foto lama kemudian memandu saya untuk menghubungi
seorang kawan lama yang pernah begitu sering mancing popping bersama bertahun
lalu ke berbagai penjuru lautan di negeri ini. Cepy Yanwar, salah satu
host/presenter program mancing paling kesohor di Indonesia, Mancing Mania
Trans|7. Iseng kemudian saya bertanya, apakah masih sering mancing popping
sekarang? Rencananya saya akan kembali menitipkan beberapa lure Batanta agar
dia gunakan lagi seperti bertahun lalu. Sayangnya jawabannya adalah, tidak
lagi. Karena spot mancing popping semakin sulit ditemukan dan spot-spot mancing
popping yang dulu begitu kesohor juga telah begitu ‘hancur’. Baik itu spot
mancing popping sekitar Sumatra, Jawa, Kepulauan Nusa Tenggara, hingga Papua. Hal
yang sama, yakni semakin sulitnya mencari ataupun menemukan spot mancing
popping di negeri ini juga saya rasakan. Berbagai perairan laut dangkal dengan
potensi spot popping yang luar biasa dalam kurun waktu sekitar lima tahun
terakhir ini terus merosot menjadi perairan kosong! Rasanya tidak perlu saya
sebutkan secara gamblang nama-nama spot tersebut. Tetapi saya yakin para
pemancing popping di negeri ini cukup paham dengan merosotnya beberapa sportfishing ground yang ada di negeri
ini.
Penyebab merosotnya potensi perairan laut dangkal yang
pernah begitu potensial sebagai arena sportfishing ini bermacam-macam. Kurang
lebih sama sebenarnya dengan semua perairan di negeri ini. Penyebab utama
adalah karena berlangsungnya cara tangkap ikan yang merusak (destructive fishing) yang terus
berlangsung dari tahun ke tahun. Penangkapan ikan secara destruktif ini kalau
di laut antara lain penggunaan bom ikan yang secara massif menghancurkan
terumbu karang dan sebagian lagi adalah penggunaan jaring ikan yang tidak
memiliki keberpihakan terhadap spesies ikan yang ada di sebuah kawasan, saking
kemampuannya ‘menggaruk’ semua yang ada. Dari ikan besar sampai ikan-ikan yang
baru lahir. Penyebab keduanya adalah kegiatan mencari ikan yang sebenarnya
legal dilakukan, seperti memancing dan juga menjaring dengan peralatan yang
cukup ramah lingkungan, tetapi karena ketiadaan konsern sustainability,
kemudian terjadilah over fishing di lokasi tersebut. Ujung-ujungnya sama,
ikan-ikan apalagi yang berukuran besar menjadi semakin sulit didapatkan baik
itu oleh pemancing sport maupun oleh para nelayan. Perairan yang rusak,
alih-alih mendukung kehidupan nelayan yang memang tergantung padanya, tetapi
semakin tidak mampu mendukung keberlangsungan hobi memancing seperti dahulu
kala.
Batanta kembali hadir setelah sekian lama memutuskan menepi
dari hiruk-pikuk dunia sportfishing di Indonesia, dalam kondisi yang sebenarnya
tidak sedang kondusif ini. Jumlah pemancing popping merosot luar biasa
banyaknya begitu juga dengan spot-spot mancing popping yang masih potensial di
negeri ini. Karenanya kemudian Batanta tidak sekedar memutuskan kembali hadir,
melainkan hadir dengan misi ataupun konsern tertentu. Selain kembali menawarkan
lure handmade yang pada masa lalu cukup dikenal publik, Batanta juga kembali terjun
di dunia sportfsihing Indonesia dengan membawa misi lingkungan. Sebisa mungkin,
Batanta akan mengkampanyekan kegiatan memancing yang ramah lingkungan dan juga
ikut menyebarkan pesan kegelisahan kondisi perairan yang ada di negeri ini. Pesan
kegelisahan yang saat ini juga diusung oleh para sahabat Wild Water Indonesia
di seluruh penjuru negeri ini yakni ‘melawan’ kegiatan illegal fishing dan destructive
fishing method. Jadi Batanta tidak sekedar hadir, tetapi bangkit sembari
membawa misi khusus. Misi lingkungan yang sangat berat demi masa depan perairan
Indonesia yang lebih baik! Salam Lestari!
* Foto dan artikel oleh Michael Risdianto (Team Batanta).
* Foto dan artikel oleh Michael Risdianto (Team Batanta).

waduh.. blom kesampaian nyoba tekniknye malah keburu abis spotnya.. mancing ikan betok udah jadi perumahan, mancing sepat kalinya udah jadi got.. hiks..nasib
ReplyDelete