Sepertinya akan selalu ada masa dimana seseorang terputus dari sesuatu. Bisa jadi itu tentang seseorang lainnya, suatu tempat, dan yang tidak mungkin dilawan adalah dari waktu yang memang tidak pernah bisa berjalan mundur. Perairan Aceh misalnya adalah fishing ground yang pernah dijelajahi oleh Team Batanta melalui Michael Risdianto pada akhir tahun 2007 hingga awal 2008, dan ‘laporannya’ membuat mata dunia sportfishing negeri ini terbelalak. Utamanya karena saking begitu hebatnya potensi sportfishing di negeri ini utamanya untuk teknik jigging, popping dan trolling. Sejak masa itu entah berapa puluh dan mungkin ratus trip sportfisher ke fishing ground di ujung barat negeri ini. Entah berapa banyak kemudian liputan media besar terkait sportfishing ini juga digelar dan mungkin hingga hari ini. Kesunyian itu pun ‘pecah’ karena begitu banyak kesan yang terus menular dan menarik semangat para sportfisher untuk juga ikut menjelajah. Waktu dan keterbatasan kemudian memaksa penulis untuk ‘berpisah’ dengan perairan Aceh. Perpisahan yang tidak pernah diharapkan sebenarnya.
Bertahun kemudian, jalan keterhubungan dengan perairan Aceh
itu seperti tercipta kembali dengan begitu saja. Beberapa Batanta popper
kembali meluncur ke Nanggroe Aceh Darussalam melalui seorang pemancing bernama
A. Syanid Razak. Seorang sportfisher Malaysia yang sepertinya adalah karib dari
Bang Fauzan, salah satu pehobi mancing yang tinggal di Banda Aceh. Tidak
disangka awalnya, komunikasi melalui media sosial menghasilkan kembali
keterhubungan dengan perairan Aceh demikian kuatnya. Foto yang dipasang di
catatan ini adalah salah satu hasil pancingan Bang Fauzan pada akhir 2016. Ikan
Giant trevally dengan ukuran yang sangat menggoda siapapun yang menyukai teknik
popping. Foto yang membawa lagi keping kenangan
akhir 2007 dan akhir 2008 kembali terapung ke ‘permukaan’. Memang pasca 2008
banyak kabar tentang menurunnya potensi sportfishing di ujung barat di negeri
ini saking banyaknya fishing trip yang digelar akan tetapi minim konsern
sustainable sportfishing seperti catch and release dan juga penerapan bag limit
(pembatasan jumlah tangkapan). Foto ini memunculkan harap, bahwa sebenarnya tantangan singin' drag dari ikan-ikan predator itu masih kuat. Potensi sportfishing di Serambi Mekkah ini masih
menjanjikan. Semoga kedepannya dapat lebih terjaga seiring ‘laju’-nya penyebaran
konsern sustainable sportfishing yang akhir-akhir ini banyak disebarkan oleh
berbagai pihak seperti misalnya para sahabat Wild Water Indonesia di seluruh negeri termasuk di Aceh. Salam untuk
perairan Aceh! Sembari memanjatkan doa dan rindu kepada dua sahabat yang telah tenang di
sisi-Nya; almarhum Jafar (Kapten KM Dian Sabang), dan Mas Jarwo (seorang
Paskhas TNI AU). Kedua almarhum ini yang menurut saya punya andil besar awal mula menampilkan potensi saltwater fishing ground di ujung barat negeri ini kepada dunia! One life some big fish!
* Foto koleksi Fauzan (Banda Aceh). Artikel ditulis oleh
Michael Risdianto (Team Batanta).
0 comments:
Post a Comment